Cahaya Dan Waktu

           Cahaya itu masuk dari jendela yang menghempas kebisuan. Seorang gadis duduk termenung di atas kasurnya. Ia bosan dengan hidupnya yang selalu berputar sama setiap harinya. masalah yang sama,penyelesaian yang sama,waktu yang sama berulang-ulang terjadi. Ia bertanya-tanya mengapa hidupnya terlihat membosankan. Sampai ia baru tersadar ada cahaya yang masuk dari jendela ke kamarnya yang gelap. Gadis itu mendekati jendela perlahan dan membuka gorden jendela. Ada seorang anak laki-laki yang megarahkan senter ke kamar gadis itu. 

         "Halo? Bisakah kau menolong aku?" seru anak laki-laki itu dari kejauhan.

          Gadis itu memiliki rabun jauh dan silinder yang membuatnya menyipitkan mata,ia tersadar tidak bisa melihat apa yang terjadi dan bergegas mengambil kacamata bulatnya di meja. Gadis itu melihat seseorang yang sepedanya masuk ke selokan depan rumahnya,ternyata itu bukan seorang anak laki-laki,melainkan seorang remaja dengan topi dan jaket yang tebal sedang berusaha mengeluarkan sepedanya. Gadis yang bosan itu segera menolong tanpa pikir panjang dahulu.

         "Sebentar ya!"

          Gadis itupun turun dan membantu remaja laki-laki itu menarik sepedanya. Sepedanya tersangkut karena akar pohon yang mencuat di dalam selokan. Setelah berhasil mengeluarkan sepedanya,laki-laki itu berterimakasih dan memberikan topinya sebagai tanda terima kasih. 

          "Terima kasih sekali lagi ya. Namamu siapa? haha tidak enak saja memanggil seseorang tanpa nama," ucap laki-laki itu dengan mata sembab.

          "Eh? Santai saja, Na-namaku Nail. Namamu?" 
        
          "Samuel. Panggil saja Sam. Semoga kita bertemu lagi ya,Nail!" 

         Gadis itu senang bukan kepalang,karena ia belum pernah menerima hadiah dari siapapun sebelumya. Ia menyimpannya dengan baik di atas lemari pakaiannya.

           Satu minggu berlalu,ia tak kunjung bertemu dengan Sam. Gadis itu berkeliling desa kecilnya dengan berjalan kaki,namun ia tidak bertemu dengan laki-laki itu. Ia mulai merasa sedih. Satu bulan berlalu dan ia masih tidak pernah bertemu dengan Sam lagi. Ia tetap saja tidak bisa melupakan Sam dan topinya. 

           Waktu berlalu begitu cepat Nail,gadis yang bosan pada hidupnya tidak lagi bosan. Kehidupannya sudah dipenuhi warna semenjak ia bertemu dengan teman-temannya. Ia bukan lagi gadis remaja,tapi sudah menjadi wanita dewasa yang baru akan memulai kariernya. Ia belum pernah bertemu dengan Sam lagi semenjak hari itu. Suatu hari ia pulang ke rumah setelah bekerja dari jam 9 sampai jam 5 sore. Ia melihat seseorang yang sepedanya tersangkut di selokan depan rumahnya lagi. Nail mendekati perlahan dan perlahan.

        "Ada yang bisa kubantu?" tanya Nail.

        "Kau sudah besar ya,Nail," Ucap pria tinggi yang sepedanya tersangkut.

         "Sam???? Kau... beneran Samuel?" 

          Samuel mengangguk dan berusaha menarik sepedanya kuat-kuat dengan Nail,sepeda Sam berhasil ditarik dari selokan. Namun,kali ini berbeda,Sam mengajak Nail berkeliling naik sepedanya menuju desa. Mereka saling menceritakan kehidupannya setelah Sam dan Nail bertemu. Sam ternyata pindah ke kota 2 hari setelah sepedanya terjebak. Pantas saja matanya sembab saat menaiki sepedanya malam itu karena Sam tidak ingin pindah dari desa itu dan pantas saja mereka tidak pernah bertemu lagi. Takdir ini begitu lucu,Sam dan Nail menjadi dekat setelah bertahun-tahun tidak pernah bertemu lagi.
  

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Pengaruh Patriarki Di Era Modern

Juara 2

Tentang Mengikhlaskan.