Rainforest 5.

  Paman Ben melempar sesuatu pada ratu. Ia marah-marah karena ia ingin membebaskan Jose yang masa depannya masih panjang tak sepertinya. Ia menantang ratu.

"Dasar mulu sobek! Sini kau! Ini adalah temanku. Jangan kau apa-apakan!" seru Paman Ben tanpa takut.

"Diam kau tua bodoh. Aku tidak tertarik denganmu lagi," ucap ratu sambil membanting Paman Ben dengan tentakelnya, namun Paman Ben akhirnya pingsan dan dimasukkan ke dalam suatu ruangan.

  Sedangkan di alam lain...

"Sepertinya tadi tidak ada kertas di sini, biar kuperiksa dulu" 

    "Jane? Ini aku Jose. Masuklah ke portal itu aku jamin keselamatanmu." tulis sebuah kertas yang tergeletak di kamar Jane.

   Jane berpikir dahulu apakah ini jebakan atau apa? Tapi Jane tidak peduli karena Jose sepertinya benar-benar ada di dalam portal itu. Jane mencari kunci emas yang ia lempar tadi dan membuka gerbang portalnya. Saat ia masuk melalui portal, Jane melewati hutan hujan tropis yang banyak mamalia uniknya, indah sekali. Namun, tiba-tiba tempat tersebut menjadi sebuah arena panahan dalam seketika dan terdapat Jose berserta wanita mengerikan disampingnya.

"Apa kau teman, bocah manis ini? Ummm~ atau kekasih?" ucap ratu sambil mengelus kepala Jose yang sedang diikat tangannya.

"Ah. Mukamu seram! Kembalikan Jose. Ini semua salahku! Biar aku saja yang dihukum!" seru Jane.

"Kalian unik sekali. Aku suka. Hahahaha. Kalau begitu, panggil si bodoh Ben!" ucap ratu dengan tegas.

  Tak lama kemudian Paman Ben tiba di tempat. Ratu menyuruh Jane untuk menembak Paman Ben dengan anak panah yang sudah sediakannya. Jika anak panah Jane mengenai kedua mata Paman Ben maka Jane dan Jose dikembalikan ke alamnya. Jane tanpa ragu mulai mengarahkan anak panahnya.

"Jangan, Jane! Dia adalah orang baik. Kita harus keluar bersamanya!" seru Jose.

"Aku tidak mengenalnya, kalau kita bebas dari sini, semuanya akan baik-baik saja kan? Yang penting kau selamat, itu lebih dari cukup, Jo!" 

  Jose berlari ke arah Paman Ben dan terkena anak panah Jane tepat di bahunya. Jane sangat marah pada Jose. Padahal Jose bukan orang yang seperti itu, ia tidak pernah peduli pada orang lain. 

"Hey? Kau gila?!"

"Tidak apa-apa, nak. Silahkan saja. Luncurkan anak panah itu tepat di mata dan jantungku. Lagipula aku hanya ingin mati," ucap Paman Jand dengan senyum yang ikhlas.

Jane tanpa ragu menarik anak panahnya lagi, tapi kali ini ia mengarahkan anak panahnya pada ratu. Seolah Jane menantang. 

"Gadis oranye ini berani sekali rupanya, ya? Apa kau bisa mengalahkanku?" ucap ratu. Jane hanya terdiam dan menutup matanya, lalu api muncul di ujung anak panahnya secara tiba-tiba.

"A-apa kau anak kecil berambut oranye yang datang bersama ayahmu dulu? To-tolong ampuni saya, saya menyerah. Keturunan Frederick itu menyeramkan, tolong maafkan saya," ucap ratu sambil menunduk.

  Jane tidak punya rasa ragu sama sekali menembakan anak panahnya pada ratu sampai ratu terbakar kesakitan. Dinding yang ada di area panahan pun mulai runtuh. Jane kembali lagi ke alamnya, tepatnya di dalam rumah di ujung taman Rainforest bersama Paman Ben yang kakinya pincang sedikit. 

"Kau Paman Ben? Aku dulu sering melihatmu di pencarian orang hilang. Rupanya kau ada di dalam situ??" tanya Jane.

"Benar. Sebelumnya terima kasih telah menyelamatkanku. Kau sebenarnya siapa..?" balas Paman Ben.

"Sama-sama!" jawab Jane yang bergegas berlari pulang ke rumah dan menunggu Jose pulang ke rumah juga.

Ting.. Tong..

   Suara bel rumah Jane. Jane dengan cepat membuka pintu dan ternyata itu Ben! 

"Hai, Jane.. terima kasih sudah menolongku. Aku minta maaf telah mengataimu cerewet, mau es krim?" ucap Jose dengan menawarkan sebuah es krim.

"Terima kasih sudah peduli denganku. Bukankah sudah seharusnya aku menolong orang terdekatku? Oh iya, rahasiakan tentang kekuatanku ya! Aku keturunan seorang dukun yang terkenal di zaman dulu. Dari kecil aku belajar bersama beliau, tepatnya arwah beliau. Kau tahu? Orang tua ku jarang sekali di rumah karena mereka sering di panggil untuk membantu orang-orang yang memiliki kekuasaan yang besar! Ini rahasia antar kita berdua, ya? Awas kau!" ucap Jane sambil mengebas rambut oranye nya.

"Baiklah. Ngomong-ngomong rambutmu bagus sekali, aku menyukai mu Jane, sedari dulu. Aku suka kau yang banyak bicara. Aku suka rambut oranye mu. Aku suka bermain denganmu. Semua hal tentangmu aku suka. Aku... mungkin bodoh telah mengatakan ini tapi, sudah terlanjur, ya bagaimana lagi?" ucap Jose dengan menolehkan kepalanya ke samping. Jane membeku sebentar.

"A-apaan itu? Kita ini teman tahu! Sudah, kau pulang saja nanti orang tuamu khawatir."

"Jadi.. aku ditolak, ya? Oh. Terima kasih ya, Jane! Semoga kau tidur nyenyak malam ini," ucap Jose sambil berbalik badan menahan malu.

"Dasar cupu! Cepat sekali menyerahnya! Aku juga suka kau,Jo! Tapi sebagai teman, tidak tahu kalo besok! Sudah sana, masuk ke rumahmu, sialan kau!" seru Jane dengan semangat dan menutup pintunya keras-keras. Jose sedikit tertawa melihatnya dan bergegas untuk pulang ke rumahnya. 

   Rahasia di balik rumah di ujung tanan Rainforest pun terpecahkan. Itu bukan mitos belaka, yang terpenting Jose dan Jane akan menjaga tempat agar tidak ada Paman Ben yang kedua. 

Selesai...








Komentar

  1. Gabungan antara misteri dan fantasi yg dibumbui kisah romance pada akhirnya. Keren pake banget. Mantaap

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Pengaruh Patriarki Di Era Modern

Juara 2

Tentang Mengikhlaskan.